Entri Populer

Senin, 16 April 2012

Tumpukan Pahala yang Sia-sia



عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا».
Nabi bersabda, “Sungguh aku tahu ada sekelompok dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan semisal gegunungan Tihamah yang berwarna putih,tetapi Allah menjadikannya debu yang beterbangan (sia-sia).” Tsauban bertanya, “Ya Rasûlallah, sifatkanlah mereka untuk kami,agar kami tidak seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda, “Mereka adalah saudara kalian, dari ras kalian, dan qiyam sebagaimana kalian hanya saja mereka adalah orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah dalam kesendiriannya.” (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani).
Di antara kewajiban paling mendasar yang harus diketahui oleh seorang muslim adalah mengetahui hal-hal yang merusak, dan menghanguskan pahala amal shalih sehingga amalnya tidak sia-sia; agar kelak tidak menjadi orang yang menyesali diri hanya karena ketidaktahuannnya, dan juga tidak menjadi orang yang merugi; mengira bahwa telah beramal sebaik-baiknya tetapi ternyata hanya sia-sia belaka, “Katakanlah, “Apakah mau Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? (103), Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (104) (al Kahfi : 103-104), sehingga kesudahannya pun tidak disangka-sangka“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka pikirkan.” (az Zumar : 47).  Maka benar apa yang dikatakan oleh Hudzaifah bin Yaman, “Manusia bertanya kebaikan kepada Rasulullah tetapi aku justru bertanya keburukan kepada beliau karena khawatir akan menimpaku.” (Shifatus Shafwah : I/610). Maksudnya, mempelajari kebaikan itu penting tetapi akan jauh lebih penting lagi bila kita juga mengetahui hal-hal yang merusak pahala kebaikan-kebaikan itu. Di sinilah kita memahami urgensi membahas hadit di atas, agar menggunungnya pahala tidak lenyap tanpa disadari oleh si empunya.

Makna hadits
Makna “mahârimullah” adalah apa yang diharamkan oleh Allah berupa dosa-dosa, besar dan kecilnya. Sedangkan makna “intahakûhâ” adalah mereka melakukan dan melanggarnya.
Sedangkan makna hadits, “Mereka adalah saudara kalian, dari ras kalian, dan qiyam sebagaimana kalian hanya saja mereka adalah orang-orang yang mereka melanggar larangan-larangan Allah dalam kesendiriannya.” mengandung dua makna,
  1. Maksudnya adalah sekelompok manusia yang tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah di hadapan manusia karena takut terlihat oleh mereka, bukan karena takut kepada Allah (ini sesuai dengan ahli nifaq dan riya’), tetapi jika mereka tidak berada di tengah-tengah manusia, mereka melakukan hal-hal yang diharamkan –seperti zina, liwath, zhalim, dusta, dan lain-lain,  dalam kesendiriannya, sebab ia tidak memiliki  rasa takut kepada Allah, atau karena ketakutannya yang amat sangat (bila terlihat oleh manusia). Maka benarlah apa yang dikatakan Nabi, “al Itsmu mâ hâka fî shadrika wa karihta an yatthali`a `alaihin nâs, dosa adalah apa yang mengusik hatimu, dan kamu tidak suka terlihat oleh manusia.”
  2. Maksudnya adalah segolongan manusia yang tidak melakukan hal-hal yang diharamkan dalam dhahirnya, karena untuk menutupi diri mereka sendiri, tetapi mereka justru tenggelam dalam kubangan dosa dan maksiat ketika sendirian, di mana ini menunjukkan kelancangan dan keberanian mereka terhadap Allah, dan keburukan menguasai mereka, sekalipun mereka bukan orang munafik ataupun orang yang riya’. 
Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa mereka tidak berbuat dosa hanya karena takut kepada manusia, tidak takut kepada Allah padahal Dia berfirman, “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridai.  Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (An Nisa’ : 108).  Karena memang tidak ada yang terluput dari-Nya, secuilpun, hatta semut  hitam yang berjalan di kegelapan malam sekalipun.

Imam Ibnul Qayyim pernah mengingatkan, “Ajma`al `arifûna billâhi anna dzunûbal khalwât hiya ashlul intikâsât, orang-orang yang arif billah (benar-benar mengenal Allah) bersepakat bahwa dosa-dosa dalam kesendirian adalah pokok ketergelinciran.” Karena perbedaan dhahir dan batin, amal ketika terang-terangan dan tersembunyi ini menunjukkan lemahnya kualitas iman, karena iman itu memiliki amalan dhahir dan batin. Zhahir iman adalah perkataan lisan dan perbuatan anggota badan, sedangkan batinnya adalah kepercayaan hati, ketundukan dan kecintaannya. Zhahir tidak bermanfaat manakala tidak memiliki batin, walaupun sampai mengucurkan darah, dan mengorbankan harta benda dan anak keturunan. Batin tanpa dibarengi dengan lahir juga tidak cukup kecuali bila ia tidak mampu melakukannya (lemah), dipaksa dan khawatir binasa. Tidak melakukan suatu perbuatan lahir tanpa ada halangan menunjukkan rusaknya batin dan kekosongan iman. Kurangnya amal zhahir menunjukkan kurangnya batin, dan kekuatan amal zhahir menunjukkan kekuatan batin.  Keimanan adalah hati dan intii Islam, sedangkan keyakinan adalah hati dan inti iman. Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan iman dan keyakinan adalah cacat, dan setiap keimanan yang tidak membangkitkan untuk beramal adalah cacat.

Alangkah indah kekata Abul `Atahiyyah,
Idzâ mâ khalawtad dahra yawman fa lâ taqul ** khalawtu, wa lakin qul `alayya raqîbun
Wa lâ tahsabannallâha yaghfulu sâ`atan  ** wa lâ anna mâ nukhfîhi `anhu yaghibu

“Jika pada suatu hari kamu sedang dalam kesendirian maka janganlah kamu katakan,
aku sedang sendiri tetapi katakanlah sesungguhnya ada Dzat yang mengawasiku;
janganlah kamu mengira Allah alpa sekalipun sesaat,
dan jangan pula menyangka bahwa apa yang kita sembunyikan tidak Dia ketahui.”

Kejujuran hati
Hadits di atas mengingatkan agar kita tidak menjadi pribadi shalih secara dhahir tetapi berjiwa bejat dan berhati busuk; menampakkan keshalihan di hadapan manusia tetapi bermaksiat di hadapan Dzat yang lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya sendiri dalam kesendiriannya. Dia lah Allah, Dzat yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam jiwa dan terdetik dalam pikiran hamba-Nya, dan “Dia mengetahui khianatnya mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir : 19). Orang seperti ini adalah orang yang ingin menipu Allah padahal sebenarnya ia menipu dirinya sendiri. Kiranya tepat apa yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh tentang orang yang berwatak seperti ini. Katanya, “Yâ kaddzâb ya muftarî…, ittaqillâh wa lâ tasubba iblîsa fi l-`alaniyyah wa anta shadîquhu fi s-sirri, wahai pendusta  wahai orang yang mengada-ada kedustaan, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencaci iblis di tengah keramaian manusia tetapi kamu malah menjadi temannya dalam kesendirian.”

Dalam riwayat lain, Fudhail bin Iyadh juga mengatakan, “Wahai orang yang sengsara, kamu orang jahat tetapi menganggap dirimu baik. Kamu itu orang bodoh tetapi menganggap dirimu pintar. Kamu tolol tetapi angan-anganmu panjang.”

Tentang perkataan di atas, Imam adz Dzahabi berkomentar, “Demi Allah, sungguh benar apa yang beliau katakana kita ini zhalim tetapi justru merasa didzalimi, tukang memakan makanan yang haram tetapi merasa diri kita suci, fasik tetapi merasa diri kita shalih, mencari ilmu untuk mengejar dunia tetapi merasa mencarinya karena Allah semata.”

Maka, harus ada kejujuran dalam hati. Karena kejujuran tidak hanya pada lisan tetapi juga pada hati. Jujur kepada diri sendiri, dan juga kepada Allah dengan menyesuaikan lahir dan batin. Tentang hal ini, Sufyan bin Uyainah berkata, “Apabila amalan hati bersesuaian dengan amalan zhahir, itulah keadilan. Apabila amalan hati lebih baik daripada amalan zhahir, itulah keutamaan, dan apabila amalan zhahir lebih baik daripada amalan bathin, itulah keculasan.” (Shifatus Shafwah : II/234).

Lenyapnya peka dosa
Dosa dan maksiat yang kita lakukan menjadi noktah dosa yang menghitamkan hati. Setitik demi setitik. Awalnya, nurani kita akan selalu memberikan pesan bahwa ia tersakiti. Bila ia bertaubat maka hati akan jernih kembali, tetapi ketika hawa diperturutkan dan maksiat terus dilakukan, berulang-ulang, lagi dan lagi, noktah-noktah dosa menjadi Rann, yang menggelapkan hati, padahal, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa’id, “wa min ‘uqubatis sayyi’ah as-sayyi’atu ba’daha, akibat dari berbuat dosa adalah berbuat dosa setelahnya” artinya, satu dosa akan selalu mengundang dosa yang lainnya. Hingga suatu ketika, hati sudah tidak lagi peka dosa, ia mati rasa. Dan ini adalah hukuman terberat yang sesungguhnya. Pakar hati, Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khatir menyebutkan, “Hukuman atas suatu dosa adalah perasaan tidak berdosa.” Ya, karena merasa tak berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati.

Alangkah indahnya kekata Hasan Az-Zayyat ;

Yang paling aku takutkan adalah keakraban hati
Dengan kemungkaran dan dosa
Jika suatu kedurhakaan berulangkali dikerjakan
Maka jiwa menjadi akrab dengannya
Hingga ia tak lagi peka, mati rasa.

Bila demikian, maka orang yang memiliki segunung pahala tetapi sia-sia itu; selalu menshalihkan dhahirnya tetapi membusukkan batinnya sendiri itu dengan maksiat dan dosa tidak pernah mengecap manisnya munajat. Karena kalau lah amalan dhahirnya benar, tentu akan menghasilkan khasyyah yang akan menghalangi dia untuk bermaksiat dalam kesendirian. Nikmat munajat bisa jadi lenyap, tetapi ketika ia tidak menyadari karena hatinya sudah mati rasa, sehingga tidak lagi peka terhadap dosa, dan merasa tidak berdosa, maka bisa jadi nikmat munajat itu tidak akan kembali lagi.

Abu Sulaiman, tabi’in yang pernah bersua bidadari pada suatu malam itu pernah berkata, “Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Jibril alaihis salam, “Cabutlah apa yang aku rizkikan kepada hamba-Ku berupa nikmatnya taat. Jika dia kehilangan maka kembalikanlah kepadanya, tetapi jika dia tidak kehilangan, maka jangan engkau kembalikan kepadanya, selama-lamanya.” (Shifatus Shafwah : IV/226).

Jadi, ketaatannya hanyalah khusyuk secara dhahir, tidak secara batin. Bahkan, Imam Al-Ghazali memaparkan bahwa orang yang dikuasai hawa nafsu dan maksiat, bila ia tengah shalat, ia pasti malu bila ada orang yang mengetahui apa yang menggelayut dalam pikirannya, sekalipun orang itu adalah orang yang paling bejat sekalipun, apalagi dalam shalatnya. Padahal shalat yang tidak memerintahkan kepada yang makruf, dan mencegah yang mungkar seperti ini hanya akan menjauhkan pelakunya dari Allah Ta’ala.

Dari Abdurrahman bin Zaid dari Abdullah bin Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang shalatnya tidak memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, maka dia akan bertambah jauh dari Allah.” (Shifatus Shafwah : I/414).

Maka, alangkah malangnya lelaki yang secara lahir shalih tetapi berhati busuk itu; hilangnya nikmat munajat, dan dijauhkan dari rahmat Allah sungguh merupakan siksa, sebelum siksa yang sesungguhnya di akherat nanti.

Ta`zhim, lubbul `ubudiyyah
Ternyata perbincangan sederhana pada hari selasa pagi, 19 Juli 2011 menjadi jawaban atas tanya saya, “Kenapa menggunungnya pahala bisa tersia-sia seperti itu?”, waktu itu saya membuka perbincangan, “Ternyata dosa sembunyi-sembunyi lebih berbahaya ya?” tanya ini sebagai pancingan saja, karena saya pun sudah tahu bahwa dosa terang-terangan lebih berbahaya karena dosa sembunyi-sembunyi hanya akan berakibat kepada pelakunya saja, berbeda dengan dosa terang-terangan, dampaknya akan menimpa orang di sekitarnya.

“Bukannya dosa terang-terangan?” tanya ustadz Imtihan Asy-Syafi’I
“Maksud saya, dosa sembunyi-sembunyi itu ternyata ngeri juga.” sembari membayangkan hadits yang barusan yang saya baca; memiliki segunung pahala karena saking banyaknya tetapi ternyata sia-sia karena Allah jadikan semua pahala itu bak debu beterbangan, sama sekali tidak bernilai di sisi-Nya.
“Oh, iya” padahal beliaunya tidak tahu apa yang saya baca tetapi langsung nyambung; sudah faham apa yang saya maksudkan.

Beliau melanjutkan, “Sebenarnya, dosa terang-terangan bisa saja bernilai kecil bila disertai dengan istighfar (baca : taubat), sebaliknya, dosa sembunyi-sembunyi bisa bernilai besar bisa dilakukan terus menerus (kaidahnya para ulama, Lâ kabîrata ma`a l-istighfâr wa lâ shaghîrata ma`a l-ishrâr).”
Lanjutnya, “Intinya adalah ta`zhim seorang hamba kepada Allah. Sebagai contoh, ada dua orang yang shalat; mereka sama-sama shalat tetapi kualitas shalatnya tentu tidak sama, dan ketidaksamaan ini ditentukan oleh seberapa besar ta`zhim mereka kepada Allah.” Jadi, “Ta`zhim adalah lubbul `ubudiyyah, inti ubudiyyah.”
Ta`zhim adalah lubbul `ubudiyyah ini sangat penting karena segala bentuk kebaikan akan bernilai agung sesuai dengan seberapa besar pengagungan seorang hamba kepada Sang Pencipta, Allah Ta`ala; merasakan pengawasan-Nya, begitu pula dalam bermaksiat, orang yang meremehkan Allah ketika ia sedang bermaksiat membuat ia terjatuh dalam dosa di atas dosa. Inilah yang diingatkan oleh Ibnu Abbas. Kekatanya diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam karya monumentalnya, Shifatus Shafwah.

Ibnu Abbas berkata, “Wahai pendosa, janganlah kamu merasa aman terhadap akibat buruk dari dosamu. Ketika satu dosa diikuti dosa yang lain, maka ia lebih besar dosanya daripada dosa yang sudah kamu lakukan. Sedikitnya rasa malu kepada malaikat yang berada di sisi kanan dan kirimu ketika kamu sedang melakukan dosa, itu lebih besar dosanya daripada dosa yang sudah kamu kerjakan. Tertawamu ketika berbuat dosa sedang kamu tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu, itu lebih besar dosanya daripada dosa itu sendiri. Kebahagiaan dengan dosa yang kamu kerjakan juga lebih besar dosanya daripada dosa itu sendiri. Perasaan sedih karena terluput melakukan dosa itu lebih besar dosanya daripada dosa itu sendiri jika kamu beruntung mencicipinya. Dan rasa takutmu terhadap angin yang akan bergerak membuka tabir pintumu ketika kamu berbuat dosa sedangkan hatimu tidak berguncang dengan penglihatan Allah kepadamu itu dosanya lebih besar daripada dosa yang kamu kerjakan.” (Sifatus Shafwah : I/754-755). Ya Allah, betapa seringnya kita melakukan dosa di atas dosa bila kita tidak memiliki ta`zhim kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala.

Maka, sebagai penutup, hadits Nabi di bawah ini cukup menjadi nasehat bagi kita semua,
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا».
Dari Tsauban, dari Nabi, beliau bersabda, “Sungguh aku tahu ada sekelompok dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan semisal gegunungan Tihamah yang berwarna putih, tetapi Allah menjadikannya debu yang beterbangan (sia-sia).” Tsauban bertanya, “Ya Rasûlallah, sifatkanlah mereka untuk kami, agar kami tidak seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda, “Mereka adalah saudara kalian, dari ras kalian, dan qiyam sebagaimana kalian hanya saja mereka adalah orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah dalam kesendiriannya.” (HR. Ibnu Majah dan ath Thabrani).

Rabbanâ zhalamnâ anfusanâ wa in lam taghfir lanâ la nakûnanna minal khasirin, Duh Rabb kami, kami telah berlaku zhalim terhadap jiwa-jiwa kami, maka ampunilah kami, kerana jika Engkau tidak mengampunkan maka sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.

NB : Hadits ini wajib dihafal, dan direnungi, terutama oleh penulis sendiri.
By : Ibnu Abdul Bari el `Afifi
Akhukum fillah, Ibnu Abdul Bari el `Afifi. 

Senin, 09 April 2012

Shalat Berjamaah, Antara Hukum dan Realita



Suatu kali, ada seorang teman yang begitu sulit untuk bangun shalat subuh berjamaah. Ku gedor pintunya, ku bangunkan dia, ku panggil dia, dan ku suruh dia cepat-cepat bersiap shalat di masjid. Alarmnya pun masih berbunyi ketika itu. Seakan menjerit-jerit untuk membangunkannya. Tetapi, itu semua tidak membuatnya beranjak dari tempat tidur dan hanya menggeliat seperti kucing yang baru bangun tidur. Dan kemudian tidur lagi. Hingga aku pulang dari Masjid, kutemui dia masih dalam posisi itu. Tak berhenti disitu, ku bangunkan untuk kedua kalinya hingga tubuhnya mulai terbangun dan duduk untuk mengambil air minum disampingnya. Ku suruh dia cepat untuk shalat. Lalu aku masuk kamar. Aku beraktifitas disana. Hingga setengah jam kemudian, belum ku dengar denyitan pintu yang menandakan dia keluar untuk berwudhu. Aku curiga, dan keluar kamar dan kulihat kedalam kamarnya. Astaghfirullah, dia tidur lagi. Lalu ku gedor pintunya, Bangun-bangun! Akhirnya dia bangun subuh. Kejadian itu hampir setiap hari ku alami.

Aku percaya ada masalah besar pada dirinya. Akar masalah yang dialaminya tidak sederhana. Masalah itu ada pada mafahim-nya atau dapat diartikan persepsinya terhadap sesuatu. Sebab manusia itu hidup/bergerak/beraktifitas karena mafahim-nya terhadap kehidupan. Maka mafahim inilah yang harus disampaikan. Mulai dari, tidakkah dia mengetahui hukum shalat berjamaah di masjid bagi lelaki? Atau tidakkah dia mengetahui bagaimana siksa jika meninggalkannya? Apabila dia sudah memiliki mafahim tentang ini, dia akan merubah kebiasaannya yang buruk itu. Insyallah

Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم begitu tegas menjelaskan pentingnya shalat berjamaah bagi laki-laki. Ditekankan kepada kaum muslimin untuk selalu datang shalat berjamaah. Bahkan seorang yang buta ketika itu, meminta ijin kepada Rasulullah agar tidak mengikuti shalat berjamaah di masjid dengan udzur/alasan berupa kebutaan dan tidak bisa berjalan sendirian. Rumahnya jauh dan tidak ada seorangpun yang bisa mengantarnya. Belum lagi dijalan nanti banyak serangga dan binatang buas. Dan masih ada udzur (alasan) lain yang disampaikannya. Namun Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah kamu (masih bisa) mendengar Adzan?” ia menjawab, “Ya, Saya masih bisa mendengarnya.” Maka beliau bersabda, “(kalau begitu), penuhilah panggilannya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku tidak mendapatkan ada rukhsah (keringanan) baginya.”(1)

Begitu juga ‘Amir bin Abdullah bin Zubair رَضِيَ اللهُ عَنْه tatkala ia mendengar mu’adzin mengumandangkan adzan, sementara itu kematian sebentar lagi mendatanginya, maka dia berkata, “Bawalah aku ke Masjid!” Dikatakan kepadanya, “Anda sedang sakit.” Lantas dia menjawab, “Aku mendengar panggilan Allah, sementara aku sulit memenuhi panggilan-Nya, maka tolong, bawalah aku ke Masjid.” Maka ia pun shalat Maghrib berjamaah bersama imam, ia sempat mendapatkan satu rokaat, kemudian menghembuskan nafas terakhir.(2)

Dengan demikian, lebih-lebih lagi bagi orang yang sehat badannya dan sempurna indranya. Pasti Rasulullah akan lebih keras peringatan baginya. Gelar apakah yang beliau sematkan kepada orang yang meninggalkan shalat berjamaah di Masjid? Justru malah dia shalat di rumahnya atau di kosan. Mereka digolongkan orang yang memiliki sifat kemunafikan. Bahkan ciri utama orang munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم, “Sesungguhnya sholat yang paling berat dikerjakan oleh orang-orang munafik ialah shalat Isya’ dan Subuh.”(3)

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menggariskan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk (sunnah-sunnah). Seandainya kalian shalat dirumah, seperti orang yang terlambat ini shalat dirumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Dan tidaklah seorang laki-laki bersuci dengan sempurna lalu sengaja ke masjid di antara masjid-masjid (yang ada) kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan dan mengangkat pula dengannya satu derajat dan dengannya pula dihapus satu dosa. Sebagaimana yang kalian ketahui, tak seorangpun meninggalkannya (shalat berjama’ah) kecuali orang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan sungguh orang (yang berhalangan) pada masa itu, dibawa datang (ke masjid) dengan dipapah oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf.”(4)

Mereka beralasan, badan ini berat seperti ada yang menindih. Rasa malas karena suasana yang dingin. Mata bergitu berat dan perih seakan dipenuhi dengar air kecing. Bahkan para sahabat Rasul, untuk mengidentifikasi apakah orang tersebut munafik atau bukan, dapat dilihat bagaimana kehadirannya dalam shalat berjamaah.

Seandainya mereka tahu, keutamaan yang begitu besar di dunia dan akhirat, pasti dia akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sebagaimana Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم bersabda, “Sekiranya mereka mengetahui keutamaan yang ada dalam dua shalat tersebut, mereka pasti akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.(5) Sering kita jumpai, untuk antrian sembako, raskin, atau daging kurban saja, orang-orang berani berdesak-desakan. Berdiri berjam-jam mengantre panjang hanya untuk mendapatkan secarik rezeki. Bagaimana kita bisa membayangkan orang yang harus merangkak-rangkak mendatangi sesuatu, pasti yang didatanginya ini sangat berharga nilainya.

Bahkan di zaman Rasulullah, saking urgennya urusan ini sampai-sampai beliau berkeinginan untuk membakar rumah orang yang tertidur pulas ketika shalat sedang dikerjakan. Sebagaimana Beliau صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم bersabda, “Sungguh, sebenarnya aku sangat ingin memerintahkan sholat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami kaum muslimin. Kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, lalu akan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut.”(6) Artinya apa? Artinya ini begitu penting dan wajib bahkan bagi laki-laki untuk mendatangi shalat berjamaah di Masjid. Bukan shalat sendirian di kosan atau di rumah.

Hadits berikut inilah yang harus selalu diingat oleh setiap orang. Baik lelaki maupun perempuan, yaitu ketika Sumarah bin Jundab رَضِيَ اللهُ عَنْه meriwayatkan bahwasannya Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم bermimpi. Dalam mimpi ini Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم diperlihatkan adzab orang-orang yang berdosa dari orang-orang muslim. Bisa jadi ini adzab kubur, atau bisa jadi pula dalam api neraka, bahkan mungkin pada kedua-duanya. Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم bersabda,
“Sungguh telah datang kepadaku tadi malam dua tamu (Jibril dan Mikail). Keduanya diutus kepadaku, dan berkata, ‘Berangkatlah’, lalu saya pergi bersama mereka. Kami mendatangi orang yang sedang tidur dan yang lainnya berdiri tegak di atasnya dan membawa batu. Lalu tiba-tiba melepaskan batunya tepat pada kepalanya hingga hancur lebur. Batu itu telah meleburkannya. Kemudian dia mengambilnya kembali, dan dia tidak mengulanginya hingga kepalanya pulih kembali, sebagaimana semula. Kemudian dia akan kembali, lalu dia akan melakukannya sebagaimana yang telah dia lakukan pada pertama kalinya. Rasulullah berkata, ‘Saya berkata kepada keduanya’, ‘Subhanallah! Apa ini?’. Mereka berdua berkata, ‘Lanjutkan perjalanan... Lanjutkan perjalanan...’.”(7) Beliau melewati peristiwa berlainan yang jumlahnya sangat banyak. Namun, tidak mungkin disebutkan secara keseluruhan di sini.

Kemudian kedua malaikat tadi mulai menjelaskan padanya peristiwa yang beliau saksikan tadi, “Orang pertama yang telah Anda datangi tadi, yang dipecahkan kepalanya dengan batu, ia adalah orang yang membawa Al-Qur’an namun mencampakkannya dengan begitu saja, dan tidur pada saat shalat wajib.”(8) Semua orang tahu bahwa tidur menjadi penghalang utama shalat Subuh. Adapun gambaran orang memukul kepalanya, adalah ia merupakan tempat akal, tempat paling mulia yang dimiliki manusia.

Oleh karena itu, kewajiban kita adalah menegakkan shalat sebagaimana dulu Rasulullah dan para sahabat menegakkannya. Yaitu dengan melaksanakan shalat wajib diawal waktu, berjamaah, dan di Masjid. Apabila kita tidak melakukan itu, maka kita telah meninggalkan sunnah Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم, dan dia akan jauh dari syafa’at beliau di hari kiamat nanti. Bahkan dia tidak diakui oleh Rasulullah sebagai umatnya. Na’udzubillah min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat orang munafik. Semoga Allah memudahkan setiap langkah kita menuju masjid dikegelapan malam. Semoga kita mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Sebagaimana Rasulullah صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.”(9)

Keterangan:
(1) Mukhtashar Muslim (321), sementara yang riwayat lain ada di Shahih Sunan Abu Dawud (516)
(2) Siyar A’lami An-Nubula’ 5/219
(3) HR. Muslim, Mukhtashor Muslim hal. 325
(4) HR. Muslim
(5) HR. Muslim, Mukhtashor Muslim hal. 325
(6) HR. Muslim, Mukhtashor Muslim hal. 325
(7) HR. Bukhari
(8) Ibid.
(9) HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah